Kecelakaan jatuh Ke Sorga (Part 2)

Pada hari-hari dan minggu berikutnya, tubuhku seluruhnya terinfeksi dan berat badanku turun dari 167 pound ke tulang-belulang saja yaitu 90 pounds. Tubuhku menjadi sangat kurus dan tak berharga dan luka-luka terbuka yang berkembang yang memperlihatkan tulang-tulangku. Bagian belakang tumitku  membusuk dan tanganku terinfeksi sangat parah sehingga mereka berpikir untuk mengamputasinya.

Saya berada dalam kesakitan luar biasa. Ada bisul/borok eksternal dan internal dari cairan lambung yang keluar secara berlebihan yang membuat lubang di
perutku. Ini menyebabkan banyak pendarahan di dalam. Setiga oesophagusku hancur dan meninggalkan bekas luka sehingga saya tidak bisa minum air. Darahku
terinfeksi oleh mikroorganisme dan ada hari-hari di mana saya kehilangan darah sampai sebanyak 10 pints hampir seluruh volume tubuhku. Saya juga mengalami
lupa kepala dan memar di otak.

Tubuhku melawan sekuatnya pada kematian, tetapi ini adalah pertempuran yang kalah. Tiap komplikasiku dapat membunuh seseorang. Saya buta pada mata kananku.
Saatnya tiba tubuhku menjadi kaku, dan saraf di kedua kakiku mati. Tulangku menjadi lembek, dan kakiku melengkung seperti cakar melewati batas tempat tidurku.

Dokter-dokter sudah melakukan apa yang mereka mampu – memberi obat, membersihkan luka dan merawatku sebisanya. Mereka bahkan memanggil pakar dari Rumah sakit
Universitas di Cleveland. Beberapa tahun kemudian, saya membaca ringkasan dari hasil pemeriksaan medisnya. Banyak kata-kata besar yang menggambarkan betapa
sakitnya aku, dan kemudian dia menulis, “Tidak ada apapun yang bisa saya lakukan untuk anak muda ini!”, sehingga akhirnya mereka merelakan aku untuk mati
!.

Ada saat di mana saya tidak sadar, dan tidak ada respon yang tampak. Ada juga waktu sadar seperti saat ini. Tetapi seringkali, saya berada di antara kondisi
sadar dan tidak. Sebagian besar yang saya ingat adalah saya sangat sakit dan dapat merasa hidup tersalur keluar dari diriku seperti seseorang menekan tombol
saklar.

Saat saya berbaring sekarat, temperaturku mencapai 160 derajat, saya sangat tidak nyaman sehingga apabila seseorang meletakkan tangan di tempat tidur, saya
akan ngeri dengan penderitaan. Seluruh tubuhku dipenuhi penderitaan, setiap sel tubuhku tertekan, tetapi saya masih merasa tubuhku masih berjuang untuk
bertahan.

Paat waktu itu, saya mengalami pengalaman yang mengubahkan hidup. Secara sekejab dunia fisik menjadi hilang dan manusia batiniahku keluar dari tubuh fisik.
Saya tidak lagi di ruangan rumah sakit, saya memasuki dunia roh. Tiba-tiba saya menjadi sadar akan dua hal: dunia spiritual adalah dunia yang nyata dan tidak
aktifnya indera persepsi akan waktu.

Ini sungguh menakjubkan. Saya menemukan diriku pergi ke suatu tempat dan tidak memiliki kontrol atasnya.

Tiba-tiba, tampak pintu yang sedang menutup. Kegelapan yang luar biasa mulai melingkupi aku, dan saya melihat ini adalah titik pemisahan. Datang dari ruangan yang
sedang mulai menutup suatu sorot sinar yang paling putuh dan murni yang pernah saya lihat. Pintu mulai lebih cepat menutup lagi. Maksud pemisahan ini menjadi
jelas padaku. Saya tahu apabila pintu ini tertutup seluruhnya, saya akan terpisah seluruhnya dari kekekalan yang ada dari sinar tersebut.

Saya mengalami kehilangan harapan yang sangat dan ketakutan yang dalam. Pemisahan adalah ketiadaan akan harapan! Pemisahan secara eksternal adalah siksaan
yang melampaui apa yang bisa kita percaya. Saya mau Anda mengetahui bahwa ada tempat yang ada di suatu tempat yang merupakan pemisahan secara kekal. Saat itu
saya diijinkan tidak hanya melihat tetapi mengalami perasaan seperti apakah pemisahan secara kekal. Dan saya mulai menangis pada Tuhan.

bersambung ke part 3

Incoming search terms for the article:

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply